Connect with us

INTERNASIONAL

Arab Saudi Sudah Minta Pemerintah Jemput WNI di Arab Saudi, Habib Rizieq Juga?

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Kerajaan Arab Saudi sudah mengirimkan surat kepada Pemerintah Indonesia terkait keberadaan warga negara Indonesia (WNI) di negara tersebut.

Dalam surat tersebut, pemerintah diminta segera menjemput 42 WNI yang merupakan jemaah umrah yang sudah overstay.

Kepada para WNI overstay tersebut, Kerajaan Arab Saudi juga menghapus seluruh denda dan implkasi hukum.

Apakah hal itu berarti Habib Rizieq Shihab juga termasuk WNI yang dimaksud Kerajaan Arab Saudi?

Salah satu kuasa hukum Habib Rizieq, Damai Hari Lubis menerangkan, WNI yang dimaksud Kerajaan Arab Saudi adalah jemaah umrah.

Hal ini tentu berbeda dengan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) yang dilarang pulang.

“Masalah Habib Rizieq bukan masalah hukum terkait overstay, sehingga tidak bisa diselesaikan via online,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (27/3/2020).

Damai menjelaskan, persoalan Habib Rizieq hanya bisa diselesaikan melalui jalur khusus.

“Jadi harus ada putusan politik melalui keputusan resmi Kerajaan Arab soal pencabutan cekal,” terangnya.

Damai juga menerangkan, ada sejumlah syarat lain yang harus dikantongi agar Habib Rizieq bisa meninggalkan Arab Saudi.

Di antaranya surat dari Kerajaan Arab Saudi yakni surat Bayan Safar atau izin keluar dari Arab Saudi.

“Kami yang merindukannya (Habib Rizieq) selalu berdoa semoga beliau tetap sehat dan segera kembali,” harapnya.

Damai menilai, pemerintah Indonesia selama ini tidak menunjukkan keseriusanannya memulangkan Habib Rizieq.

Karena itu, ia menantang pemerintah untuk bisa memulangkannya.

“Apakah ada upaya serius penguasa negeri yang berkompeten untuk membantu serta bertanggung jawab atas kepulangan Habib Rizieq selaku WNI kembali ke tanah air?” pungkasnya.[psid]

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INTERNASIONAL

Shenzhen Jadi Kota Pertama yang Larang Konsumsi Daging Anjing dan Kucing di China

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Menyusul pandemi virus Corona yang meluas ke seluruh dunia, pemerintah kota Shenzhen menetapkan sebuah peraturan baru. Shenzhen bakal menjadi kota pertama di China yang melarang penjualan dan konsumsi daging anjing serta kucing.

Menurut laporan BBC (3/4/2020), persebaran virus Corona yang kerap dikaitkan dengan konsumsi daging hewan liar mendorong pemerintah China untuk membuat peraturan terkait distribusi dan konsumsi daging satwa liar. Shenzhen melangkah lebih jauh, memperluas larangan untuk anjing dan kucing.

Aturan Baru Berlaku Sejak 1 Mei 2020

Undang-undang baru ini akan diberlakukan pada 1 Mei. Sekitar tiga puluh juta anjing per tahun dibunuh di seluruh Asia untuk diambil dagingnya, kata Humane Society International (HSI).

“Anjing dan kucing sebagai hewan peliharaan telah menjalin hubungan yang lebih dekat dengan manusia daripada semua hewan lain, dan melarang konsumsi anjing dan kucing serta hewan peliharaan lainnya adalah praktik umum di negara-negara maju dan di Hong Kong dan Taiwan,” kata pemerintah Kota Shenzhen. 

“Larangan ini juga menanggapi permintaan dan semangat peradaban manusia.”

Sebenarnya Mayoritas Warga China pun Ogah Makan Daging Anjing

Walaupun begitu, praktik memakan daging anjing di Tiongkok sebenarnya juga bukan hal lumrah. Pasalnya mayoritas orang China modern mengaku kalau mereka tidak pernah dan tidak mau melakukannya.

Organisasi advokasi hewan HSI memuji langkah yang diambil pemerintah kota Shenzhen.

“Ini benar-benar bisa menjadi momen penting dalam upaya untuk mengakhiri perdagangan brutal ini yang membunuh sekitar 10 juta anjing dan 4 juta kucing di China setiap tahun,” kata Dr Peter Li, spesialis kebijakan China untuk HSI.

Penggunaan Empedu Beruang untuk Pengobatan Masih Diperbolehkan

Bersamaan dengan putusan ini, China menyetujui penggunaan empedu beruang untuk mengobati pasien Virus Corona jenis baru.

Cairan empedu beruang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Bahan aktif asam ursodeoxycholic, digunakan untuk melarutkan batu empedu dan mengobati penyakit hati. 

Tetapi sejauh ini tidak ada bukti bahwa bahan tersebut efektif melawan virus corona. Proses ekstraksinya pun bisa dikategorikan sebagai penyiksaan hewan, karena harus dilakukan selagi beruang masih hidup.

Brian Daly, juru bicara Yayasan Hewan Asia, mengatakan kepada AFP, “Kita seharusnya tidak mengandalkan produk-produk satwa liar seperti empedu beruang sebagai solusi untuk memerangi virus mematikan yang tampaknya berasal dari satwa liar.” | MC 

Continue Reading

INTERNASIONAL

Picu Ledakan Kasus Corona, India Buru Ribuan Anggota Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh menjadi “penyumbang” terbesar jumlah kasus COVID-19 di negara tersebut

Published

on

Anggota Jamaah Tabligh menunggu bus yang akan membawa mereka ke fasilitas karantina di Nizamuddin, New Delhi, India, 31 Maret 2020. Foto/REUTERS/Adnan AbidiN

ACEHTIMES.ID | NEW DELHI– Otoritas pemerintah federal India memerintahkan para pejabat negara bagian Andhra Pradesh melakukan perburuan atau pelacakan besar-besaran terhadap lebih dari 1.000 anggota Jamaah Tabligh. Musababnya, pertemuan komunitas itu telah memicu ledakan jumlah kasus infeksi virus corona COVID-19 di negara tersebut.

Ribuan muslim anggota Jamaah Tabligh sebelumnya berkumpul di wilayah yang berjarak hampir 2.000 km dari Ibu Kota India, New Delhi.

Dalam pelacakan besar-besaran selama lima hari ke depan, pihak berwenang di Andhra Pradesh menggunakan menara telepon seluler, basis data pemerintah, dan bahkan sukarelawan desa untuk menemukan hampir semua orang dalam daftar peserta komunitas tersebut. 

Tak hanya anggota Jamaah Tabligh, orang-orang yang kenal dekat anggota komunitas itu juga dilacak.

Data pada Jumat (3/4/2020), ada 2.543 kasus COVID-19 di India. Dari jumlah kasus itu, 72 orang di antaranya telah meninggal. Sebanyak 191 pasien telah berhasil disembuhkan.

Pandemi COVID-19 di India mengkhawatirkan karena menjadi negara terpadat kedua di dunia setelah China.

“Kami hampir melacak semua orang,” kata seorang pejabat senior kesehatan Andhra Pradesh kepada Reuters dalam kondisi anonim.

Kementerian Dalam Negeri India mengatakan pihak berwenang telah menemukan dan mengarantina 9.000 orang yang terkait dengan markas besar Jamaah Tabligh atau pun yang telah kontak dekat dengan anggota komunitas itu.

Para pejabat dari setidaknya tiga negara mengatakan mereka sedang melacak ratusan orang lagi yang terkait dengan gedung Nizamuddin Markaz, yang berfungsi sebagai asrama dan pusat pekerja Jamaah Tabligh dari seluruh dunia.

Data Departemen Kesehatan federal dan negara-negara bagian India, pertemuan Jamaah Tabligh menjadi “penyumbang” terbesar jumlah kasus COVID-19 di negara tersebut.

Pandemi virus corona COVID-19 menjadi tantangan besar bagi negara berpenduduk 1,3 miliar orang tersebut, di mana kepadatan penduduk yang tinggi dan sistem kesehatan masyarakat yang belum sempurna berisiko merusak perjuangan melawan penyakit yang telah menewaskan puluhan ribu orang di seluruh dunia.

Kelompok Jamaah Tabligh juga mengadakan pertemuan besar pada bulan Februari dan Maret yang masing-masing menyebabkan wabah massal di Malaysia dan Pakistan.

Seorang juru bicara kelompok Jamaah Tabligh, Mujeeb ur Rehman, membantah bahwa markas mereka jadi sumber besar kasus virus corona di India. “Saat itu India sudah memiliki ratusan kasus. Jadi, akan salah untuk mengatakan bahwa (Nizamuddin) Markaz adalah sumber utama wabah di negara ini,” katanya.

Pada 13 Maret, dua minggu setelah kelompok itu mengadakan pertemuan di Malaysia—jadi sumber ratusan kasus virus corona di seluruh Asia Tenggara—anggota Jamaah Tabligh berkumpul di New Delhi, termasuk hampir 200 orang asal Indonesia dan Malaysia. Data ini berasal dari dua pemimpin tinggi Jamaah Tabligh yang diwawancarai oleh Reuters.

Menurut kedua pemimpin tersebut, markas besar mereka biasanya menampung antara 2.000-4.000 orang setiap hari, di mana acara yang dijadwalkan setidaknya satu tahun sebelumnya. | SN 

Continue Reading

INTERNASIONAL

Tertinggi di Dunia, AS Catat 1.169 Kematian Pasien Corona dalam Sehari

Published

on

Foto | Net

ACEHTIMES.ID | AMERIKA SERIKAT– Amerika Serikat mencatat 1.169 kematian pasien COVID-19 dalam waktu 24 jam terakhir. Ini merupakan jumlah kematian harian tertinggi di dunia sejak pandemi global virus corona dimulai.

Menurut data yang dilaporkan Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (3/4/2020), hingga Kamis (2/4) malam waktu setempat, sebanyak 5.926 kematian pasien terinfeksi virus corona telah dilaporkan di AS.

Angka mengerikan tersebut sebelumnya dilaporkan di Italia yang melaporkan 969 kematian dalam sehari pada 27 Maret lalu.

Secara global, Italia masih mencatat jumlah total kematian tertinggi di dunia, dengan 13.915 orang meninggal karena virus corona di negeri itu. Diikuti kemudian oleh Spanyol dengan 10.003 kematian.

Menurut data Johns Hopkins, AS juga mencatat lebih dari 30 ribu kasus baru COVID-19 dalam satu hari, sehingga kini total kasus telah mencapai lebih dari 243 ribu kasus. Jumlah itu nyaris seperempat dari sejuta lebih kasus coronavirus yang sejauh ini telah dilaporkan di seluruh dunia.

Kota New York menjadi pusat wabah AS dengan mencatat lebih dari 1.500 kematian dan nyaris 50 ribu kasus positif virus corona.

Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan bahwa lebih dari 1,3 juta tes coronavirus telah dilakukan di AS.(dtk)

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: