Connect with us

NUSANTARA

Demokrat Minta Pemerintah Segera Tetapkan Lockdown: Apa Tunggu Korban Banyak?

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Total sudah 790 orang positif terjangkit virus corona (COVID-19) di Indonesia, 58 orang meninggal dan 31 orang dinyatakan sembuh. Angka pasien postif terus melonjak dari hari ke hari.  

Anggota Komisi VI DPR F-Demokrat Putu Supadma Rudana mendesak pemerintah segera melakukan lockdown (isolasi, pemutusan akses masuk dan ke luar). Sebab, menurutnya, virus corona sudah semakin mengganas. 

“Beberapa kali saya terus ingatkan pemerintah untuk segera melakukan lockdown dalam menghadapi virus corona ini. Tapi pemerintah tampaknya enggan melakukan itu. Apakah tunggu sampai korbannya banyak baru melakukan lockdown?” kata Putu kepada wartawan, Kamis (26/3). 

“Saat ini sudah 24 provinsi di Indonesia yang terpapar, lambat sekali kerjanya pemerintah kita ini. Katanya obat dari Tiongkok sudah datang? Apakah sudah disebar ke seluruh Indonesia dan kapan jadwal rapid test dilakukan? Pemerintah harus transparankepada masyarakat,” tambahnya. 

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) itu menilai sedari awal pemerintah Indonesia memang tidak siap dan cenderung menyepelekan virus corona. Dia khawatir jika pandemi corona di Indonesia tak segera berakhir, ekonomi Indonesia akan lumpuh total.  

“Terlihat dari banyaknya perusahaan yang mulai tutup seperti mal, kantor, cafe, bioskop dan lainnya. Dan yang paling terdampak tentu saja adalah sektor pariwisata, perhotelan, tekstil, hingga Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” katanya.  

Putu menyambut baik kebijakan pemerintah yang akan memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun menurutnya hal itu tidak cukup. Putu mendesak pemerintah juga memberikan jaminan bahwa tidak adanya PHK dan harus menjamin pemberian sembako door to door kepada buruh, dan pekerja harian.  

Rencananya, pemberian BLT oleh pemerintah itu sendiri akan diberikan untuk 15,2 juta rumah tangga di Indonesia pada bulan April.  

“Belum lagi masyarakat kecil, seperti pedagang, ojek online, ojek pangkalan, sopir angkot, sopir busway, pekerja kasar (kuli) jangan sampai pemerintah abai dengan mereka. Selain itu, pemerintah juga harus peduli kepada pelaku usaha di seluruh wilayah terdampak dengan memberikan insentif agar usahanya tak mati karena virus corona,” sebutnya.  

Lebih lanjut, legislator dapil Bali itu berharap Presiden Jokowi mampu menunjukkan naluri dan insting kepemimpinannya dalam menghadapi virus corona ini.  

Dia meminta Jokowi tak hanya mengoreksi bawahan akan tetapi memberikan arahan dan konsep yang jelas. Bukan hanya membiarkan Ketua Gugus Tugas dan Juru bicara Penanganan COVID-19 yang menyampaikan hal penting kepada masyarakat.  

“Saya berharap, Pak Jokowi jangan sembunyi di belakang, tapi hadir di depan bersama para menteri dan ketua gugus tugas dan jubir penanganan COVID-19),” tandasnya.(kp)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NUSANTARA

Jika Tidak Ada Kebijakan Anies, Mungkin Ledakan Korban Corona di Indonesia seperti Iran dan Itali

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Ledakan kasus manusia terjangkit Coronavirus Disease (Covid-19) di Italia dan Iran pada akhir bulan Februari disebabkan oleh dua sebab.

Demikian disampaikan aktivis yang juga Pemrakarsa Pusat Kajian Nusantara Pasifik, Haris Rusli Moty. Menurut Haris, di Italia penyebaran virus disebabkan oleh even Liga sepak Bola. Sedangkan di Iran banyak ulama dan rakyat yang banyak melawan arahan pemerintah.

“Mereka mudik dua minggu sebelum tahun baru Persia, banyak ulama dan rakyat memaksakan diri untuk jiarah di kuburan dalam menyambut tahun baru Persia. Akibatnya banyak pejabat yang kena COVID. Tahun baru Persia ini perayaannya telah menjadi tradisi dan dirayakan sangat meriah di Iran,” demikian kata Haris, Selasa (7/4).

Di Indonesia, kata Haris, penyebaran dapat terkendali karena kebijakan strategis dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberlakukan larangan menyelenggarakan Shalat Jumat.

Haris melihat jika Anies dan MUI Jakarta tidak membuat kebijakan larangan Sholat Jumat maka penyebaran wabah mematikan asal Kota Wuhan, China itu juga akan signifikan menjangkiti warga Indonesia di Jakarta.

“Bayangkan saja, jika waktu itu tidak ada larangan Shalat Jumat berjamaah di DKI Jakarta, mungkin korban Covid-19 meledak seperti yang terjadi di Italia dan Iran,” tandas Eksponen Gerakan mahasiswa 1998 ini.

Haris menyimpulkan, selama pandemik Covid di Indonesia dalam sebulan terakhir, kebijakan Anies dalam memimpin Provinsi DKI Jakarta adalah yang paling strategis.

“Jadi sepanjang penanganan pencegahan Covid, kebijakan paling strategis yang mencegah penularan Covid itu adalah larangan Shalat Jumat di DKI dan sekitarnya,” pungkasnya.(*)

Continue Reading

NUSANTARA

Komunikasi Jokowi dan Terawan ‘Belepotan’ soal Corona

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melakukan survei terhadap masyarakat terkait kinerja pemerintah dalam menangani virus corona (COVID-19).

Survei ini menggunakan data analyst yang dikumpulkan dari Twitter yang membicarakan virus corona sebanyak 145.000 orang dan 6 portal berita online terbesar. Data tersebut diamati sejak Januari-Maret 2020.

Hasilnya, tampak respons negatif dari masyarakat yang tidak puas dengan kinerja pemerintah menangani virus corona. Dari 135.000 orang yang telah disaring, sebesar 66,28% memperlihatkan respons negatif sedangkan respons positif hanya 33,72%.

“Itu sentimen negatif ke pemerintah tinggi sekali sekitar 66,28%. Jadi saran kami pemerintah harus menaikkan sentimen positif dengan cara jujur, transparan, kemudian sungguh-sungguh dan tidak menganggap remeh,” kata Didik melalui telekonferensi, Minggu (5/4/2020).

Didik menjelaskan, alasan masyarakat cenderung tidak puas karena komunikasi antar pemerintah terkait penanganan virus corona sangat buruk. Yang paling banyak mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat adalah Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Presiden dan Menkes itu belepotan komunikasinya. Itu hal pertama yang kita lihat dari penelitian ini. Dua orang ini sentimen negatifnya paling tinggi, ini harus diperbaiki” sebutnya.

Selain itu, pemerintah juga dianggap terlalu meremehkan virus corona sejak awal. Sehingga tidak ada persiapan yang matang dalam menangani pandemi ini.

“Ini merupakan hasil bercermin pemerintah karena dari awal sudah bercanda-bercanda. Misalnya ‘tidak mungkin Indonesia kena, kalau kena pakai susu kuda liar’. Jadi komunikasi dari jajaran pemerintah tidak bermutu,” sebutnya.(*)

Continue Reading

NUSANTARA

22 Dokter Meninggal, Andi Arief Sindir Presiden dan Ketua DPR yang Masih Nyenyak Tidur

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Jumlah pasien positif Virus Corona (Covid-19) terus bertambah setiap harinya. Bahkan untuk tenaga medis yang berjuang mengobati para pasien, tidak sedikit yang terpapar birus mematikan asal Wuhan China ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit dari pejuang kemanusiaan itu yang tidak terselamatkan dan harus kehilangan nyawa.

Politisi Partai Demokrat, Andi Arief lantas menyindir pemerintah dan pimpinan parlemen yang masih belum serius dalam menangani kasus Covid-19. Mulai dari menyiapkan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, hingga upaya antisipasi sebaran virus tersebut.

“Presiden, ketua DPR, ketua MPR, ketua DPD bisa tidur nyenyak di saat 22 dokter sebagai tentara perang melawan virus corona meregang nyawa,” sindirnya melalui Twitter pribadinya dengan nama akun @AndiArief_, Minggu (5/4).

Andi Arief lantas menyinggung jumlah pasien sembuh baru mencapai 151 orang, sementara di satu sisi sudah ada 22 dokter yang meninggal. Sedangkan pasien positif yang masih ditangani berjumlah ribuan dan terus bertambah.

“Perlu berapa dokter jatuh korban akibat ribuan yang masih tahap penyembuhan?” ungkap Andi Arief.

Hingga 4 April 2020 jumlah kasus positif Covid-19 tembus 2.092 orang. Sementara jumlah korban meninggal dunia terus bertambah angkanya hingga berjumlah 181 orang.(rm)

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: