Connect with us

HUKUM DAN KRIMINAL

PKS Minta Polri Tindak Pembakar Spanduk Habib Rizieq, Jangan Cuma Ahmad Dani yang Ditindak

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA – Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboebakar Alhabsyi, mendesak Kepolisian RI (Polri) menindak tegas pemabakr spanduk bergambar pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, dalam aksi unjuk rasa di depan Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (27/7). Dia menilai aksi pembakaran spanduk tersebut bisa memicu permusuhan karena telah mengekspresikan tindakan kebencian.

“Aksi pembakaran fot Habib Riieq adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Tindakan tersebut termasuk perbuatan menyatakan permusuhan dan kebencian,” kata Aboebakar di Jakarta, Rabu (29/7).

Menurut Aboebakar, Polri tidak boleh mendiamkan aksi pembakaran tersebut. Pelaku harus diberi diganjar hukuman berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

“Seharusnya aparat memproses mereka dengan Pasal 156 KUHP. Jangan sampai polisi terlihat cekatan ketika menerima laporan dari satu pihak. Sedangkan kalau ada laporan dari pihak lain terlihat kurang sigap atau bahkan slow respons,” ucap dia.

Dia meminta Polri menindaklanjuti peristiwa tersebut tanpa tebang pilih. Dia mencontohkan kasus musisi Ahmad Dani yang dijebloskan ke dalam penjara karena dugaan ujaran kebencian.


“Tentu kita semua tidak ingin masyarakat melihat Polri seolah berat sebelah. Jika dulu pada kasus Ahmad Dani, laporan soal tindakan ujaran kebencian bisa diproses dengan cepat, tentunya pada kejadian saat ini hal serupa bisa dilakukan. Saya khawatir jika aparat tidak bertindak sebagaimana mestinya, nanti ada yang mengambil langkah sendiri, mereka bisa melakukan tindakan eigen rechting atau perbuatan main hakim sendiri,” ucap Aboebakar. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKUM DAN KRIMINAL

Sabu – sabu Seberat 22,63 Kg dan Ganja Kering 1, 48 Kg Diamankan Polresta Banda Aceh

Published

on

ACEHTIMES.ID | BANDA ACEH – Satresnarkoba Polresta Banda Aceh meringkus sepuluh tersangka penyalahgunaan narkoba dan mengamankan 22,63 gram sabu-sabu dan ganja kering seberat 1,48 gram dari tangan tersangka.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto melalui Kasatresnarkoba AKP Raja Aminuddin Harahap di Banda Aceh, Rabu mengatakan tersangka dan barang bukti tersebut diamankan di lokasi dan waktu yang berbeda.

Ia menjelaskan, polisi pertama kali berhasil meringkus dua tersangka pada Selasa (7/7) yaitu B (34) dan Z (36) dan mengamankan barang bukti berupa sabu dengan berat 8,51 gram.

“Tersangka BUS ini merupakan hasil pengembangan dari penangkapan sebelumnya yakni MNZ, setelah melakukan pengembangan kembali kita berhasil meringkus ZB dirumahnya Desa Dayah Beureueh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie,”katanya.

Ia mengatakan, keterkaitan keduanya yakni mereka sama memesan sabu-sabu dari tersangka IK (DPO) sebanyak 25 gram dan menjual sebagian sabu-sabu tersebut kepada tersangka M.

“Terhadap tersangka BUS dan ZB dijerat Pasal 112 ayat (2) Jo pasal 114 ayat (2)  dari UU Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun,”katanya

Selanjutnya jelas Kasat, pada Sabtu (11/7) polisi meringkus MY (28) dibantaran sungai di Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar dengan barang bukti seberat 0,80 gram.

“Sabu-sabu tersebut ditemukan petugas sebanyak enam paket yang siap untuk dijual ke orang lain, setelah diinterogasi tersangka mendapatkan sabu dari YL yang saat ini ditetapkan sebagai DPO,”katanya.

Ia mengatakan, tersangka dijerat dengan Pasal 112 ayat (1) Jo pasal 114 ayat (1) dengan hukuman penjara selama 12 tahun.

Kasat mengatakan, pada hari Senin (13/7) Polisi kembali meringkus SU (41) karena kepemilikan sabu seberat 3,35 gram saat berada di rumahnya di Desa Meunasah Mon, Kabupaten Aceh Besar yang disimpan dalam kaleng rokok yang ia dapatkan dari tersangka AS (DPO) di Kabupaten Pidie.

“Atas perbuatannya pelaku dijerat dengan Pasal 112 ayat (2) dari UU Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara,”katanya.

Pada hari yang sama, polisi juga mengamankan seorang nelayan MHD (35) dengan barang bukti sabu seberat 0,39 gram dan satu bungkusan daun ganja kering dengan berat 1,48 gram yang ia peroleh dari BD (DPO) dan sabu dari Bang DEN (DPO).

Ia mengatakan, MHD dijerat Pasal 111 Ayat (1) dan 112 ayat (1) Jo pasal 114 ayat (1) dari UU dengan ancaman hukuman penjara 12 tahun.

Harahap mengatakan, pada hari Selasa (14/7) polisi kembali meringkus 5 orang di sebuah rumah di Gampong Lamjame, Banda Aceh dan mengamankan barang bukti sabu seberat 9,38 gram beserta alat timbangan digital, delapan potongan pipet warna bening, pipa kaca dan tutup botol mineral berwana biru.

“Kelima tersangka yaitu, MA (22) warga Bireun, RM (20) Warga Pidie Jaya, FJ (25) warga Pidie Jaya, RZ (21) warga  Banda Aceh, dan MF (22) warga Aceh Besar,”katanya.

Dirinya menyebutkan, kelima tersangka merupakan hasil pengembangan dari tersangka MHD yang ditangkap di Gampong Lambaro Skep, Banda Aceh. 

Kasat menjelaskan, MA memperoleh sabu-sabu dengan cara menggadaikan sepeda motor jenis Honda Scoopy kepada MR (DPO) di Jeunieb. Saat itu MA bersama RM sekembali dari Bireuen bertemu dengan MR di kawasan Jeunieb, lalu mereka menuju ke Banda Aceh menggunakan L – 300  dan turun di depot air kawasan Batoh Banda Aceh. 

“Saat mereka sedang menggunakan narkotika jenis sabu bersama – sama di rumah tersangka FJ di Lamjame Banda Aceh polisi meringkus para tersangka,”katanya.

Kelimanya dijerat Pasal 112 ayat (2) Jo pasal 114 ayat (2) dari UU Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman kurungan penjara selama 20 tahun. | ANT 

Continue Reading

HUKUM DAN KRIMINAL

Polisi Buru Bandar Besar Narkoba Jaringan Aceh

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA – Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat tengah memburu bandar besar narkoba yang merupakan jaringan Aceh menyusul tertangkapnya lima tersangka pengedar berbagai jenis narkoba di sejumlah lokasi di Jakarta dan Tangerang Selatan.

Sebelumnya, Satres Narkoba Polres Mtero Jakarta Barat meringkus pengedar berbagai jenis narkoba, diantaranya RS (26), RK (25), MA (24), FB (28), dan FS (27).

“Ini masih dalam tingkat pengedar. Tapi di atas yang bersangkutan dari pemeriksaan terakhir masih ada pemiliknya, ada pengontrolnya,” kata Kasat Narkoba Polres Metro Jakarta Barat Kompol Ronaldo Maradona di Jakarta, Senin.

Ronaldo menjelaskan pihaknya menangkap lima pengedar dari Jaringan Aceh di Condet, Jakarta Timur, Ciputat dan Serpong, Tangerang Selatan pada periode waktu tanggal 6 sampai 10 Juli 2020.

Dari situ, Satres Narkoba Polres Metro Jakarta Barat menyita 18,1 kilogram sabu, 1 kilogram ganja kering, 1,219 butir pil ekstasi, dan 29 butir pil happy five.

Jaringan tersebut membawa barang haram tersebut dari Aceh untuk diedarkan di wilayah Jabodetabek.


“Barang-barang ini berasal dari jaringan Aceh, sasaran Jabodetabek. Yang kami tangkap kurir, yang mengedarkan di Jabodetabek. Sebelum kami tangkap ternyata ada barang-barang yang lolos dan telah diedarkan,” kata Ronaldo.

Tersangka sindikat pengedar berbagai jenis narkoba berinisial RS (26), RK (25), MA (24), FB (28), dan FS (27) yang diringkus Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat terancam maksimal hukuman mati.

“Mereka akan dikenakan pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2, dan pasal 132 ayat 1 dengan ancaman hukumannya maksimal hukuman mati,” ujar Ronaldo.

 Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Audie S Latuheru menyayangkan masih adanya peredaran narkoba pada awal normal baru.

“Saat new normal itu, banyak pelaku kejadian narkoba yang memanfaatkan situasi. Kita sudah mengikuti beberapa kelompok yang akan mengedarkan narkoba,” ujar dia.

Audie menyebut ke semua barang bukti itu jika sampai beredar, maka daya rusaknya mencapai 96.616 jiwa. | ANT

Continue Reading

HUKUM DAN KRIMINAL

Muhammadiyah Surati Kapolri Soal Tewasnya Warga Poso

Published

on

Acehtimes.id | Jakarta – Pengurus Pusat Muhammadiyah menyurati Kepala Kepolisian RI Jenderal Idham Azis terkait tewasnya warga Poso, Sulawesi Tengah, Qidam Al Fariski Mofance. Qidam diduga merupakan korban salah sasaran satuan tugas Tinombala.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah berpendapat bahwa kasus tersebut tidak seharusnya terjadi,” seperti dikutip dari surat PP Muhammadiyah bertanggal 25 Juni 2020.

Surat yang ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas itu menyatakan keluarga Qidam telah menunjuk Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah sebagai kuasa hukum.

Dalam surat itu, PP Muhammadiyah menyatakan tewasnya Qidam bertentangan dengan tugas kepolisian untuk memberikan perlindungan dan keamanan, serta menambah banyak jumlah korban kekerasan yang dilakukan oleh aparat.

Atas peristiwa itu, PP Muhammadiyah menyampaikan tiga sikap, pertama menyesalkan secara mendalam tewasnya Qidam yang diduga dilakukan anggota polisi. Kedua, mendesak Kapolri memerintahkan pemeriksaan dan penyelidikan perkara ini, serta memproses hukum pihak-pihak yang diduga terlibat pembunuhan itu.

Ketiga, PP Muhammadiyah meminta Kapolri menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat mengenai status para korban tewas, termasuk Qidam. Sebab, selama ini kepolisian selalu mengasosiasikan para korban terafiliasi dengan kelompok radikal, tanpa proses persidangan.

Majalah Tempo edisi 6 Juni 2020 menyebut Qidam merupakan warga Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara berumur 20 tahun. Ia tewas pada 9 April 2020, diduga tewas diberondong peluru aparat. Qidam ditembak di Desa Tobe, Poso Pesisir Utara. Tempo | ASLP

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: