Connect with us

NUSANTARA

Statistik Membuktikan, Terlambat Lockdown Memperparah Wabah Corona

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Tidak seperti negara Asia pada umumnya, India bertindak sangat cepat untuk melakukan lockdown. Kebijakan lockdown selama tiga pekan diumumkan Perdana Menteri Narendra Modi pada Selasa (24/03) malam. 

Dikutip dari Theprint, saat itu  India melaporkan lebih dari 500 kasus positif Corona dan 10 di antara mereka meninggal dunia. Kebijakan ini dikritik karena akan menyengsarakan orang miskin di India. Namun pemerintah India belajar dari cara Cina menangani virus ini yang dianggap berhasil menurunkan jumlah korban.

Kunci keberhasilan Cina adalah melakukan lockdown wilayah Wuhan dan beberapa daerah lain segera setelah ada korban virus Corona. Cina melakukan lockdown ketika jumlah korban baru mencapai 30 orang meninggal. Dalam sekitar dua bulan, Cina telah berhasil menurunkan jumlah kasus baru setiap hari menjadi satu digit.

Sementara beberapa negara lain melakukan lockdown ketika korban sudah banyak. Dari statistik terlihat bahwa negara ini dianggap terlambat melaksanakan lockdown dan jumlah korban ternyata sulit dikendalikan. Sebagai contoh, Italia menerapkan lockdown setelah jatuh korban meninggal 800 orang. 

Semakin banyak bukti bahwa semakin cepat suatu negara memberlakukan lockdown, semakin sedikit jumlah kematian yang kemungkinan akan terjadi.

Data yang dikumpulkan oleh Financial Times menunjukkan bahwa Cina menerapkan lockdown setelah 30 kematian, Italia setelah 800 kematian, Inggris setelah 335 kematian, Spanyol setelah 200 kematian, dan Prancis setelah 175 kematian. Analisis tersebut menunjukkan “jumlah korban jiwa tumbuh lebih cepat di Italia dan Spanyol daripada di Tiongkok”.

Para ahli berpendapat bahwa negara-negara berkembang seperti India, yang memiliki kapasitas perawatan kesehatan terbatas, harus memberlakukan lockdown sedini mungkin. Ini akan membantu meminimalkan korban jiwa dan tidak membebani sistem perawatan kesehatan.

Penerapan Lockdown

Dalam kasus Cina, setelah virus itu menyebar, provinsi Hubei dan ibukotanya, Wuhan, dilakukan lockdown pada 23 Januari. Ada penutupan jalan dan transportasi lengkap, membatasi semua pergerakan di kota, termasuk mobil pribadi. 

Semua aktivitas komersial ditutup. Sebagian besar penduduk Wuhan tinggal di kompleks perumahan dan tidak ada yang diizinkan untuk mengunjungi mereka. Sebagian besar kompleks ini dijaga oleh penjaga keamanan yang memastikan tidak ada yang meninggalkan rumah mereka.

Orang-orang yang diizinkan pergi hanya untuk membeli bahan makanan dan obat-obatan. Hanya satu anggota keluarga yang bisa pergi ke toko kelontong setiap hari, dan terpaksa memakai masker. 

Dan sebagian besar penduduk tidak diperbolehkan meninggalkan rumah mereka dan diminta untuk mendapatkan barang kebutuhan sehari-hari. Lingkup dan skala dari kuncian India sangat mirip dengan Cina.

Sebagai perbandingan, baik Italia dan Spanyol secara bertahap membatasi kehidupan publik. Pembatasan apa yang diizinkan dilakukan oleh warga menjadi ketat seiring waktu di kedua negara.

Di Italia, pemerintah pertama memerintahkan kuncian hanya di wilayah utara dan kemudian melebar ke selatan. Tidak seperti Cina, pemerintah Italia tidak memerintahkan penutupan transportasi dan aktivitas komersial sepenuhnya. 

Perjalanan lokal dilarang, kecuali untuk “situasi kerja yang mendesak, dapat diverifikasi dan alasan darurat atau kesehatan”. Jadi, meskipun dalam jumlah yang berkurang, orang terus bekerja untuk waktu yang lama.

Menurut cendekiawan epidemiologi,  Italia tidak memberlakukan lockdown yang ketat dan memilih untuk meningkatkan pembatasan secara bertahap, menyebabkan penularan lebih  cepat. 

Di Cina, lockdown tetap berlaku selama lebih dari dua bulan. Sekarang pemerintah baru saja  mencabut beberapa pembatasan pada kehidupan publik. 

Meskipun beberapa pembatasan dicabut di provinsi Hubei, ibu kotanya, Wuhan – pusat gempa asli – akan terus diberlakukan lockdown hingga 8 April. Pada tahap ini, Cina sudah tidak ada pasien baru. Kesuksesan Cina inilah yang ditiru India. | TS

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NUSANTARA

Jika Tidak Ada Kebijakan Anies, Mungkin Ledakan Korban Corona di Indonesia seperti Iran dan Itali

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Ledakan kasus manusia terjangkit Coronavirus Disease (Covid-19) di Italia dan Iran pada akhir bulan Februari disebabkan oleh dua sebab.

Demikian disampaikan aktivis yang juga Pemrakarsa Pusat Kajian Nusantara Pasifik, Haris Rusli Moty. Menurut Haris, di Italia penyebaran virus disebabkan oleh even Liga sepak Bola. Sedangkan di Iran banyak ulama dan rakyat yang banyak melawan arahan pemerintah.

“Mereka mudik dua minggu sebelum tahun baru Persia, banyak ulama dan rakyat memaksakan diri untuk jiarah di kuburan dalam menyambut tahun baru Persia. Akibatnya banyak pejabat yang kena COVID. Tahun baru Persia ini perayaannya telah menjadi tradisi dan dirayakan sangat meriah di Iran,” demikian kata Haris, Selasa (7/4).

Di Indonesia, kata Haris, penyebaran dapat terkendali karena kebijakan strategis dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberlakukan larangan menyelenggarakan Shalat Jumat.

Haris melihat jika Anies dan MUI Jakarta tidak membuat kebijakan larangan Sholat Jumat maka penyebaran wabah mematikan asal Kota Wuhan, China itu juga akan signifikan menjangkiti warga Indonesia di Jakarta.

“Bayangkan saja, jika waktu itu tidak ada larangan Shalat Jumat berjamaah di DKI Jakarta, mungkin korban Covid-19 meledak seperti yang terjadi di Italia dan Iran,” tandas Eksponen Gerakan mahasiswa 1998 ini.

Haris menyimpulkan, selama pandemik Covid di Indonesia dalam sebulan terakhir, kebijakan Anies dalam memimpin Provinsi DKI Jakarta adalah yang paling strategis.

“Jadi sepanjang penanganan pencegahan Covid, kebijakan paling strategis yang mencegah penularan Covid itu adalah larangan Shalat Jumat di DKI dan sekitarnya,” pungkasnya.(*)

Continue Reading

NUSANTARA

Komunikasi Jokowi dan Terawan ‘Belepotan’ soal Corona

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melakukan survei terhadap masyarakat terkait kinerja pemerintah dalam menangani virus corona (COVID-19).

Survei ini menggunakan data analyst yang dikumpulkan dari Twitter yang membicarakan virus corona sebanyak 145.000 orang dan 6 portal berita online terbesar. Data tersebut diamati sejak Januari-Maret 2020.

Hasilnya, tampak respons negatif dari masyarakat yang tidak puas dengan kinerja pemerintah menangani virus corona. Dari 135.000 orang yang telah disaring, sebesar 66,28% memperlihatkan respons negatif sedangkan respons positif hanya 33,72%.

“Itu sentimen negatif ke pemerintah tinggi sekali sekitar 66,28%. Jadi saran kami pemerintah harus menaikkan sentimen positif dengan cara jujur, transparan, kemudian sungguh-sungguh dan tidak menganggap remeh,” kata Didik melalui telekonferensi, Minggu (5/4/2020).

Didik menjelaskan, alasan masyarakat cenderung tidak puas karena komunikasi antar pemerintah terkait penanganan virus corona sangat buruk. Yang paling banyak mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat adalah Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Presiden dan Menkes itu belepotan komunikasinya. Itu hal pertama yang kita lihat dari penelitian ini. Dua orang ini sentimen negatifnya paling tinggi, ini harus diperbaiki” sebutnya.

Selain itu, pemerintah juga dianggap terlalu meremehkan virus corona sejak awal. Sehingga tidak ada persiapan yang matang dalam menangani pandemi ini.

“Ini merupakan hasil bercermin pemerintah karena dari awal sudah bercanda-bercanda. Misalnya ‘tidak mungkin Indonesia kena, kalau kena pakai susu kuda liar’. Jadi komunikasi dari jajaran pemerintah tidak bermutu,” sebutnya.(*)

Continue Reading

NUSANTARA

22 Dokter Meninggal, Andi Arief Sindir Presiden dan Ketua DPR yang Masih Nyenyak Tidur

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA– Jumlah pasien positif Virus Corona (Covid-19) terus bertambah setiap harinya. Bahkan untuk tenaga medis yang berjuang mengobati para pasien, tidak sedikit yang terpapar birus mematikan asal Wuhan China ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, tidak sedikit dari pejuang kemanusiaan itu yang tidak terselamatkan dan harus kehilangan nyawa.

Politisi Partai Demokrat, Andi Arief lantas menyindir pemerintah dan pimpinan parlemen yang masih belum serius dalam menangani kasus Covid-19. Mulai dari menyiapkan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, hingga upaya antisipasi sebaran virus tersebut.

“Presiden, ketua DPR, ketua MPR, ketua DPD bisa tidur nyenyak di saat 22 dokter sebagai tentara perang melawan virus corona meregang nyawa,” sindirnya melalui Twitter pribadinya dengan nama akun @AndiArief_, Minggu (5/4).

Andi Arief lantas menyinggung jumlah pasien sembuh baru mencapai 151 orang, sementara di satu sisi sudah ada 22 dokter yang meninggal. Sedangkan pasien positif yang masih ditangani berjumlah ribuan dan terus bertambah.

“Perlu berapa dokter jatuh korban akibat ribuan yang masih tahap penyembuhan?” ungkap Andi Arief.

Hingga 4 April 2020 jumlah kasus positif Covid-19 tembus 2.092 orang. Sementara jumlah korban meninggal dunia terus bertambah angkanya hingga berjumlah 181 orang.(rm)

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: