Connect with us

LINTAS NANGGROE

Di Lhokseumawe ACT produksi air minum untuk dibagikan gratis

Acehtimes

Published

on

Air minum dalam kemasan produksi ACT | foto antara

ACEHTIMES.ID | LHOKSEUMAWE – Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui Global Wakaf memproduksi air minum kemasan yang didistribusikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.

Staf Program ACT Lhokseumawe Hidayatullah di Lhokseumawe, Minggu, mengatakan tim Global Wakaf ACT sudah mulai memproduksi dan membagikan air minum kemasan secara gratis sejak Sabtu (17/4).

“Air minum kemasan ini juga kami bagikan secara gratis kepada jamaah masjid, pesantren, dan bahkan instansi pemerintah,” kata Hidayatullah menyebutkan.

Hidayatullah mengatakan produksi air minum tersebut bekerja sama dengan PT Aini Sejahtera, perusahaan air minum di kawasan Bhatupat Barat, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe.

“Semoga air minum wakaf ini menjadi solusi dan syiar untuk umat dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan dan keberkahan di tengah bulan suci Ramadhan,” kata Hidayatullah.

Menurut Hidayatullah, air merupakan kebutuhan utama yang wajib terpenuhi dan kebutuhan utama yang tidak bisa tergantikan. Oleh sebab itu, melalui kolaborasi dengan PT Aini Sejahtera diharapkan air minum wakaf dapat terdistribusikan dengan merata.

Direktur PT Aini Sejahtera Rusli Abdullah mengatakan pihaknya bersama ACT memiliki kesamaan visi untuk tujuan sosial. Kesamaan misi tersebut sebagai alasan menjadikan pabriknya sebagai tempat produksi air minum wakaf.

Perusahaan dipimpinnya, kata Rusli Abdullah, juga bergerak dalam kegiatan sosial di Aceh. Seperti bencana, menyalurkan kebutuhan air ke daerah bencana.

“Kami berharap dengan adanya air minum wakaf ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkannya, khususnya keluarga prasejahtera,” kata Rusli Abdullah. | antara

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LINTAS NANGGROE

Harga Daging Meugang di Subulussalam 180 Ribu Perkilogram

Acehtimes

Published

on

Ilustrasi | foto net

ACEHTIMES.ID | SUBULUSSALAM – Harga daging meugang menyambut hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah atau 2021 Masehi di Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, berkisar antara Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram.

Adi, pedagang daging di pasar daging dadakan, di Jalan Malikul Saleh, Kota Subulussalam, Rabu, mengatakan harga daging pada tradisi meugang menjelang perayaan Idul Fitri tahun ini sama dengan meugang puasa.

“Harganya masih sama seperti meugang puasa lalu. Daging kerbau dijual Rp180 ribu per kilogram. Sedangkan untuk daging sapi dijual di kisaran harga Rp170 ribu per kilogram,” ujarnya.

Menurut Adi, animo masyarakat membeli daging meugang Idul Fitri 1442 Hijriah ini cukup tinggi. Pembeli mulai berdatangan dan memadati lokasi pasar dadakan itu sejak pukul 06.00 WIB.

Dibandingkan dengan hari biasa, harga daging mengalami kenaikan berkisar Rp60 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Harga daging di hari biasa Rp120 ribu per kilogram.

“Alhamdulillah, animo masyarakat yang membeli daging cukup tinggi bila dibandingkan dengan meugang puasa sebulan lalu,” tuturnya sambil tersenyum.

Nabila Amna, pembeli daging, mengungkapkan harga daging yang dijual relatif stabil. Naiknya harga daging itu selaras dengan hukum permintaan dalam ekonomi, yakni apabila permintaan tinggi harga juga akan naik.

“Kenaikkan harga masih terjangkau. Tradisi meugang ini merupakan sesuatu yang unik di Aceh, mari terus kita jaga dan rawat,” kata santriwati pesantren terpadu di Labuhan Haji, Aceh Selatan tersebut.

Pantauan di pasar dadakan tersebut hingga pukul 11.00 WIB terlihat ramai didatangi pembeli. Selain pedagang daging, beberapa pedagang bumbu dapur juga berjualan di tempat tersebut. | antara

Continue Reading

LINTAS NANGGROE

Dua WNA kru film dokumenter diperintahkan keluar dari Subulussalam

Acehtimes

Published

on

ACEHTIMES.ID | SUBULUSSALAM – Dua warga negara asing (WNA) kewarganegaraan Amerika Serikat dan Jerman yang merupakan kru film dokumenter diperintahkan kembali ke Medan, Sumatera Utara, karena tidak mengantongi izin beraktivitas di Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.

Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono di Subulussalam, Minggu, mengatakan dua WNA tersebut termasuk dalam lima kru film dokumenter yang hendak mendokumentasikan di kawasan hutan Lae Soraya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

Mereka ada tujuh orang, dua di antaranya sopir. Mereka mau masuk ke wilayah Sungai Lae Soraya, melakukan liputan di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Sebelumnya, mereka liputan dokumenter di Aceh Tenggara,” kata AKBP Qori Wicaksono.

Kapolres mengatakan keberadaan rombongan pembuat film dokumenter itu diketahui saat hendak melewati pos penyekatan perbatasan di Jembatan Timbangan Jontor, Kecamatan Penanggalan, Jumat (7/5) sekira pukul 21.00 WIB.

Rombongan tersebut dari Aceh Tenggara, menumpangi dua mobil, yakni mobil boks membawa perlengkapan dan mobil penumpang minibus. Saat, diperiksa semua dapat memperlihatkan dokumen perjalanan.

Mengenai WNA, kami lakukan koordinasi dengan imigrasi terkait kelengkapan dokumen keimigrasian. Hasil pemeriksaan dokumen keimigrasian dinyatakan lengkap,” ujar Kapolres.

Untuk kepentingan koordinasi dengan pihak terkait, kata Kapolres, kru film dokumenter tersebut dibawa ke Mapolres Subulussalam. Sebelumnya, terhadap ketujuh orang tersebut juga dilakukan pemeriksaan usap antigen, dan hasilnya nonreaktif.

AKBP Qori Wicaksono mengatakan saat di Mapolres Subulussalam didapat informasi dari koordinator Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah VI Aceh Irwandi yang menyebutkan tiga kru film yang WNI melaporkan kegiatan mereka di Subulussalam.

“Tapi, yang WNA belum memiliki izin memasuki kawasan hutan karena laporan yang masuk ke KPH-VI hanya warga lokal saja. Oleh sebab itu, KPH-VI merekomendasikan WNA keluar dari Subulussalam karena tidak memiliki izin untuk beraktivitas di kawasan hutan Lae Soraya,” kata AKBP Qori Wicaksono.

Terhadap ketiga WNI kru film dokumenter, tetap dipersilakan untuk melanjutkan aktivitasnya karena sudah mendapatkan izin membuat film dokumenter di kawasan hutan Lae Soraya

“Kami tidak menemukan unsur tindak pidana mereka lakukan. Hanya saja mereka tidak melapor kepada KPH-VI terkait dengan adanya WNA dalam rombongan,” pungkas AKBP Qori Wicaksono. | antara

 

Continue Reading

EKONOMI & BISNIS

Dilarang lewat, belasan mobil penumpang tertahan di Aceh Jaya

Acehtimes

Published

on

ACEHTIMES.ID | ACEH JAYA – Belasan mobil penumpang, baik dari Banda Aceh maupun dari Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, tertahan dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, di pos penyekatan di depan SPBU, Kecamatan Teunom, Kabupaten Aceh Jaya.

“Mobil penumpang dilarang lewat. Ada belasan mobil penumpang tertahan di sana,” kata Desra, warga Teunom, Aceh Jaya, Jumat.

Sedangkan mobil barang, truk tangki, angkutan sawit serta dump truck diperbolehkan lewat, namun setelah proses pemeriksaan. Begitu juga mobil pribadi diperbolehkan lewat. Tapi, jika penumpang lebih dari tiga orang, maka diperiksa, kata Desra.

Kapolres Aceh Jaya AKBP Harlan Amir melalui Kasatlantas Polres Aceh Jaya Ipda M Arie Syahputra mengatakan mobil penumpang dilarang lewat di pos penyekatan tersebut.

“Mobil penumpang, kami perintahkan putar balik ke daerah asal. Sedangkan mobil barang, truk kami persilakan menuju daerah tujuan,” kata Ipda M Arie Syahputra.

Ia menambahkan di Aceh Jaya ada tiga pos yaitu pos pengamanan di Lamno, pos pengamanan di Teunom dan pos pelayanan di Calang. | antara

 

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: