Connect with us

HUKUM DAN KRIMINAL

Diduga Terkait Sabu, Pemuda Aceh Utara Ini Tewas Ditembak

Acehtimes

Published

on

ACEHTIMES.ID | LHOKSUKON– Pemuda berinisial Sh (22), warga Gampong (desa) Bantan, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara tewas ditembak pihak Satuan Reserse Narkoba Polres setempat karena diduga menyerang polisi dengan pisau saat tersangka akan ditangkap terkait kasus sabu dan ganja.

Kasat Reserse Narkoba Polres Aceh Utara AKP M Daud di Lhoksukon Selasa mengatakan Sh mengembuskan napas terakhir saat dia dalam perjalanan akan dilarikan ke rumah sakit.

“Lokasi penangkapan di Gampong Bantan, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara pada Senin (24/2), sekitar pukul 21.00 WIB, petugas juga mengamankan barang bukti sabu dan ganja,” kata M Daud.

Dikatakan ada dua tersangka dalam kasus ini, masing- masing Sh, diduga sebagai pembeli dan dinyatakan meninggal dunia dalam penangkapan itu, sementara satu lainnya yang ditangkap berinisial Ia (36), warga Gampong Tanjong Awe, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Sementara barang bukti yang diamankan berupa sabu dua paket yang dikemas dengan plastik bening seberat 31,94 gram bruto dan ganja dua paket dibungkus dengan kertas putih seberat 11,46 gram bruto.

Dijelaskan penangkapan ini berawal sekitar pukul 18.00 WIB petugas Sat Resnarkoba mendapat informasi di rumah ladang milik almarhum Sh di Gampong Bantan diduga sering terjadi transaksi narkoba.

Berdasarkan informasi tersebut dan surat perintah tugas, petugas melakukan penyelidikan dan dari hasil penyelidikan tersebut di mana informasi itu diduga benar adanya.

Tidak lama kemudian petugas melakukan pengendapan dan penggerebekan di lokasi dan di dalam rumah didapati kedua tersangka atas nama Sh dan Ia, mereka diduga sedang memaket sabu.

Namun saat Sh akan ditangkap, menurut polisi tersangka melakukan perlawanan dengan mencabut pisau belati dan berupaya menyerang petugas sehingga dilakukan penembakan peringatan ke atas sebanyak dua kali.

Meski demikian, masih keterangan polisi, saat itu tersangka tetap melawan dan mengejar petugas dan oleh petugas melakukan tindakan melumpuhkan dengan menembak ke arah paha tersangka sebanyak satu kali.

Usai kejadian Sh dilarikan ke Puskesmas Batu XII Kecamatan Cot Girek, kemudian oleh pihak Puskesmas dirujuk ke Rumah Sakit Umum Cut Mutia di Lhoukseumawe dengan menggunakan ambulans.

Saat berada di kawasan Lhoksukon dan ketika dicek oleh petugas ternyata tersangka telah meninggal dunia kemudian jenazah dibawa ke Puskesmas Lhoksukon untuk pemeriksaan visum et repertum.

Tersangka Sh diduga alami pendarahan hebat sehingga dinyatakan meninggal dunia dalam kasus itu.

Sementara tersangka ia ketika itu tidak melakukan perlawanan dan saat digeledah badan ditemukan barang bukti jenis ganja di kantong celananya.

Kemudian tersangka ia serta barang bukti sabu dan ganja dibawa ke Polres Aceh Utara guna menjalani proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. | ANT 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUKUM DAN KRIMINAL

Kuasa hukum sesalkan perpanjangan penahanan tersangka investasi ilegal

Acehtimes

Published

on

Muklis Muktar SH | foto antara

ACEHTIMES.ID | BANDA ACEH – Kuasa hukum dua tersangka investasi ilegal yang menghimpun dana masyarakat melalui perusahaan penjualan pakaian Yalsa Boutique menyesalkan perpanjangan masa penahanan kliennya.

“Kami dapat informasi masa penahanan klien kami diperpanjang. Ini artinya perpanjangan kelima kali,” kata Mukhlis Mukhtar, kuasa hukum, dua tersangka investasi ilegal Yalsa Boutique, di Banda Aceh, Rabu.

Kedua tersangka investasi ilegal yang diperpanjang masa penahanannya yakni berinisial S (30) dan SHA (31). Kedua tersangka merupakan pasangan suami istri.

Menurut Mukhlis Mukhtar, perpanjangan masa penahaman ini menunjukkan penyidik tidak profesional. Sebab, tidak mampu menyelesaikan penyidikan, sehingga memperpanjang penahanan kedua tersangka hingga lima kali.

“Perpanjang penahanan sampai lima kali. Hak-hak tersangka juga harus dihormati. Kalau seperti ini, kinerja penyidik patut dipertanyakan,” kata pengacara yang juga mantan anggota DPR Aceh.

Mukhlis Mukhtar mengatakan dirinya jarang menemukan perkara besar seperti kliennya yang masa penahanan tersangkanya diperpanjang hingga lima kali.

“Oleh karena itu, kami meminta Kapolri harus turun tangan. Polisi jangan melayani masyarakat seperti itu dengan memperpanjang masa penahanan tersangka hingga lima kami,” kata Mukhlis Mukhtar.

Sebelumnya, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh memperpanjang masa penahanan dua tersangka investasi ilegal dengan dana yang dihimpun mencapai Rp164 miliar.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Winardy mengatakan masa penahanan terhadap kedua tersangka sudah dilakukan selama 90 hari.

“Perpanjang masa penahanan terhadap kedua tersangka merupakan penahanan pengadilan. Dan ini merupakan perpanjangan masa penahanan kedua dari pengadilan. Kedua tersangka sudah ditahan selama 90 hari,” kata Kombes Pol Winardy.

Kombes Pol Winardy mengatakan hingga saat ini penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh terus merampung berkas perkara tersebut. Penyidik juga sudah memeriksa 42 orang saksi.

Menurut Kombes Pol Winardy, penanganan perkara investasi ilegal tersebut sudah memasuki tahap satu. Penyidik terus berupaya melengkapi berkas perkara sesuai petunjuk jaksa penuntut umum.

“Terkait barang bukti yang disita, belum ada penambahan. Sebelumnya, penyidik sudah menyita sejumlah mobil mewah dan rumah tersangka, serta uang tunai Rp46 juta, dan lainnya,” kata Kombes Pol Winardy. °| antara

 

Continue Reading

HUKUM DAN KRIMINAL

Polisi Buru 4 Peserta Touring yang Tabrak Ulama Aceh hingga Wafat

Acehtimes

Published

on

ACEHTIMEA.ID | BANDA ACEH – Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Banda Aceh sedang mencari empat pengendara sepeda motor rekan dari pelaku yang menabrak pimpinan Dayah (pesantren) Ulee Titi, Waled Ibrahim Usman yang terjadi di kawasan Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar pada Sabtu (22/5) lalu.

Perintah pencarian itu berdasarkan instruksi dari Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol Dicky Sondani.

“Saya sudah perintahkan Kasatlantas Polresta Banda Aceh untuk mencari empat orang yang ikut dalam rombongan touring tersebut,” kata Dicky Sondani, Selasa (25/5).

Dicky menuturkan, hasil olah tempat kejadian perkara, ditemukan bahwa ulama tersebut ditabrak oleh salah satu rombongan motor yang sedang touring dengan kecepatan tinggi.

“Saat kejadian itu, empat sepeda motor rombongan touring tancap gas melarikan diri,” ujarnya.

Kepolisian, kata Dicky, akan mengambil tindakan tegas terhadap rombongan touring baik itu sepeda motor, maupun mobil yang ugal-ugalan di jalan raya.

“Seharusnya dalam mengemudi jangan ugal-ugalan di jalan raya. Mereka para rombong touring harus menghormati para pengguna jalan raya lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Dirlantas Polda Aceh bersama Jasa Raharja telah memberikan santunan untuk keluarga almarhum Waled Ibrahim Usman dan diterima langsung oleh pihak keluarga.

“Kita sudah menyerahkan santunan dari Jasa Raharja sebesar Rp 50 juta kepada keluarga Abu Ulee Titi,” ungkapnya.

Saat ini, pelaku yang menabrak almarhum Waled Ibrahim Usman, Bismi Rahman (21) masih menjalani perawatan di RSUDZA. Dia belum bisa dimintai keterangan oleh polisi ,| merdeka

 

Continue Reading

HUKUM DAN KRIMINAL

Jadi Saksi Ahli Habib Rizieq, Refly Harun: Kalau Sudah Patuh Usai Dikenai Sanksi Administrasi, Untuk Apalagi Dihukum

Acehtimes

Published

on

Habib Rizieq Shihab | foto net

ACEHTIMES.ID | JAKARTA –  Sanksi administratif dan sebagainya sudah lebih dari cukup untuk para pelanggar protokol kesehatan ketimbang dikenakan sanksi pidana.

Begitu dikatakan pakar hukum tata negara Refly Harun saat dihadirkan sebagai saksi ahli dalam sidang lanjutan kasus kerumunan dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (10/5).

Pada sidang tersebut, Habib Rizieq bertanya kepada Refly soal pemidanaan seseorang dengan Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan saat sudah dikenakan sanksi denda administratif.

Dijawab Refly, pertama dalam pelanggaran pidana ada dua prinsip hukum, yakni mala in se dan mala prohibita. Kata dia, pelanggaran pidana yang masuk prinsip mala in se tersebut saja masih bisa diselesaikan perkaranya di luar hukum.

“Tapi kalau sanksi misalnya sanksi non pidana bisa diterapkan dan yang menerima sanksi tersebut juga patuh misalnya. Maka kita bicara, untuk apalagi kita sanksi pidana untuk kasus itu,” ujar Refly.

Menurutnya, hukum harus merestorasi atau biasa disebut dengan restoratif justice

“Misalnya dalam soal prokes kalau semua pelanggaran prokes yang mala in prohibita itu dekati dalam hukum pidana semua. Maka berdasarkan asas equality before the law dan asas diskriminatif semuanya harus diproses demi menegakan dua prinsip tersebut,” terangnya.

“Kan tidak mungkin bukan itu tujuan dari hukum, tujuan dari hukum itu tertib sosial. Kalau manusianya sudah tertib sudah patuh misalnya, untuk apalagi dihukum,” lanjutnya.

Refly mengatakan, dalam pemberatan hukum pidana, maka harus dibuktikan setidaknya dua alasan yang menimbulkan kedaruratan kesehatan.

“Nah kalau dari sana saja susah kita harus membuktikannya, maka membawa ini ke ranah pidana tidak lebih tidak penting lagi,” demikian Refly. (RMOL)

 

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: