Connect with us

EKONOMI & BISNIS

IMB Trans Studio Mall Banda Aceh Keluar, Target Beroperasi Akhir 2020

Published

on

ACEHTIMES.ID | BANDA ACEH– Setelah melewati serangkaian proses mulai dari rekomendasi tata ruang, Amdal, hingga advice planning, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Trans Studio Mall (TSM) Banda Aceh akhirnya terbit.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman menyerahkan secara resmi IMB tersebut kepada Direktur Ekspansi Trans Property Herman Budi Susilo, Senin (23/12/2019) di balai kota.

Dalam sambutannya, Aminullah mengatakan kehadiran TSM merupakan pewujudan tekadnya untuk membangun Banda Aceh dengan tidak hanya mengandalkan APBK, tapi juga investor.

Menurutnya, Banda Aceh memiliki tiga aspek yang sangat dibutuhkan oleh investor yakni keamanan, kemudahan perizinan/investasi, dan prospek yang menjanjikan. 

“Banda Aceh kota paling aman di Indonesia yang ditandai dengan penghargaan dari Kemenkopolhukam.”

“Kemudian DPMPTSP Banda Aceh sudah dua kali berturut-turut (2018-2019) menjadi yang terbaik di Indonesia. Saya sendiri juga didapuk sebagai kepala daerah pembina pelayanan publik terbaik nasional pada 2018,” ungkap mantan Dirut Bank Aceh ini.

Ia memastikan dalam pengurusan perizinan di Banda Aceh tidak ada pungutan liar dan akan diberikan kemudahan-kemudahan. “Saya berada paling depan untuk memastikan kemudahan investasi di Banda Aceh,” ungkapnya lagi.

Terkait prospek ke depan, wali kota membeberkan lonjakan wisatawan yang sangat besar dalam dua tahun terakhir. “2017-2018 jumlah kunjungan wisatawan ke Banda Aceh naik sebanyak 14 ribu orang, dan 2018-2019 melonjak drastis menjadi 105 ribu orang.”

Tak lupa ia mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Trans Property untuk berinvestasi di Banda Aceh. 

“Sekarang Trans Studio Mall sudah menjadi kenyataan yang juga tak terlepas dari keinginan Pak Chairul Tanjung untuk membantu masyarakat Aceh. Ini akan menjadi penunjang kemajuan kota Banda Aceh ke depan,” pungkasnya.

Representatif Trans Property Herman Budi Susilo mengucapkan terima kasih kepada Aminullah yang menyerahkan langsung IMB dimaksud. 

“Proses pengurusan izin hingga terbitnya IMB ini alhamdulillah lancar. Kita patut berbangga kepada Pak Wali yang tanpa pamrih dengan jerih payah dan konsisten mengupayakan hadirnya TSM di Banda Aceh.”

Ia pun menceritakan sekilas proses penjajakan mega proyek tersebut yang dimulai sejak 2017 silam. “Setelah Pak Wali beberapa kali datang ke kantor kami, akhirnya Pak CT datang ke Banda Aceh, dan jarang sekali beliau langsung putuskan untuk berinvestasi. Beliau juga mengaku punya keterikatan emosional dengan Banda Aceh,” ungkapnya.

Herman turut menyampaikan pesan CT untuk segera memproses trans mart halal, mengingat penerapan Syariat Islam di Aceh.

“Insyaallah Januari 2020 beliau akan ke mari untuk bertemu dengan para ulama untuk memastikan semua yang ada di TSM Banda Aceh itu berkonsep halal.’

Terakhir ia berharap investasi pihaknya bisa memacu pembangunan Banda Aceh. “Di banding 2017, sekarang lebih indah kotanya, malam penuh lampu warna-warni, dan semakin ramai oleh wisatawan. Semoga dengan kehadiran TSM yang kami targetkan beroperasi pda Desember 2020, Kota Banda Aceh makin top dan maju,” pungkasnya. | RIL 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI & BISNIS

Walikota Gagas Banda Aceh Jadi Kota Kopi Dunia

Published

on

Ilustrasi | foto net

ACEHTIMES.ID | BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman menggagas ibu kota Provinsi Aceh itu 
sebagai kota kopi dunia karena warung kopi di di daerah itu semakin menjamur dan telah memberikan dampak banyak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Banda Aceh tidak punya wilayah pertanian dan perkebunan, tetapi sangat bergantung pada sektor dagang dan jasa. Karena itu, kami akan gagas Banda Aceh sebagai kota kopi dunia,” kata Aminullah Usman di Banda Aceh, Kamis. 

Aminullah mengatakan saat ini Pemkot Banda Aceh terus berkonsentrasi untuk mengembangkan sektor pariwisata dan kuliner. Dirinya melihat dunia usaha jasa tersebut telah membantu banyak warga keluar dari pengangguran.

Sejauh ini, kata Aminullah, usaha warung kopi menjadi andalan di bidang kuliner. Warung kopi sekarang ini terus bertambah, sehingga menguntungkan banyak pihak.

“Seribu warung kopi ini telah menghipnotis siapa saja yang berkunjung ke Banda Aceh. Rasanya belum ke Banda Aceh kalau belum menikmati nikmatnya kopi terbaik di dunia,” ujarnya. 

Aminullah menuturkan warung kopi senantiasa telah menciptakan peluang kerja baru. Selain itu juga memberi pemasukkan besar bagi daerah dan juga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Selama pandemi, kata Aminullah, Pemkot Banda Aceh turut memberi dukungan penuh terhadap pengusaha warung kopi. Langkah itu juga tertuang dalam Peraturan Wali Kota (Perwal) 51 tahun 2020 tentang penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan COVID-19. 

Peraturan tersebut, lanjut Aminullah, memberi kerenggangan terhadap pengusaha warung kopi, mereka tetap diizinkan membuka usaha dengan menjalankan sistem take away.

Selain itu, Aminullah menyatakan bahwa pemerintah juga tidak pernah berhenti memberikan bantuan kepada pelaku usaha warung kopi, termasuk modal usaha di tengah pandemi COVID-19 ini. 

“Kami selalu membantu pelaku usaha seperti memberikan modal demi menopang usaha masyarakat di tengah pandemi,” kata Aminullah.

Bentuk dukungan lainnya, Aminullah juga aktif meresmikan warung kopi hasil UMKM lokal warga Banda Aceh. Serta selalu mempromosikan kopi khas Aceh ke mata dunia dalam berbagai kesempatan. | antara

Continue Reading

EKONOMI & BISNIS

Gubernur Aceh terima penyerahan kontrak kerja sama Blok B

Published

on

ACEHTIMES.ID | JAKARTA – Gubernur Aceh  Nova Iriansyah menerima Naskah Asli Kontrak kerja sama Blok “B” di gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia di Jakarta, Rabu.

“Kita sangat optimistis proses transformasi sistem pengelolaan ini akan berjalan lancar,” kata Nova Iriansyah melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammd Iswanto.

Ia menjelaskan PT. Pertamina Hulu Energi NSB/NSO, selaku pengelola Blok Migas Wilayah Kerja “B” sebelumnya sangat mendukung proses transisi tersebut dengan menyiapkan Tim Pendamping, guna memastikan kelancaran operasional dan produksi.

Ia menjelaskan dukungan tersebut tentunya sangat penting guna memastikan penyaluran gas kepada konsumen berjalan lancar.

Gubernur Aceh berharap produksi Migas Wilayah Kerja Blok B, dapat menjadi pemantik bagi bangkitnya industri berbasis gas yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun – Lhokseumawe dan wilayah Aceh lainnya.

Selanjutnya kata Nova, semua sistem kontrak kerja sama tersebut nantinya dipantau dan diawasi Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2015.

“Pelaksanaan kontrak kerja sama ini akan terukur, transparan dan akuntabel, sehingga sumber daya alam yang dihasilkan dapat di manfaatkan sebagai penggerak pembangunan nasional berkelanjutan,” katanya.

Gubernur Aceh juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri dan segenap jajaran Kementerian ESDM yang telah mendukung proses pengalihan sistem pengelolaan Migas Blok B tersebut.

Nova juga mengucapkan terima kasih atas dukungan PT. Pertamina Hulu Energi NSB/NSO yang tetap aktif memberi pendampingan kepada PT. Pema Global Energy selama proses transisi berjalan.

“Semoga dengan tampilnya PT. Pema Global Energy dalam industri Migas nasional, mampu memperkuat kontribusi Aceh dalam mencapai Program Target Migas Nasional tahun 2030,” kata Nova.

Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Jendral Kementerian ESDM,  Ego Syahrial, Dirjen Migas Kementerian ESDM beserta para pimpinan di Lingkungan Kementerian ESDM dan pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh.| antara

 

 

Continue Reading

EKONOMI & BISNIS

Bea cukai beri fasilitas kepabeanan untuk pengembangan ekonomi Aceh

Published

on

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh Safuadi | foto antara

ACEHTIMES.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh memberi fasilitas kepabeanan kepada kalangan pengusaha dan industri untuk pengembangan perekonomian di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.

“Pemberian fasilitas kepabeanan ini juga dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional,” kata Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh Safuadi di Banda Aceh, Kamis.

Menurut Safuadi, pemberian fasilitas kepabeanan tersebut bertujuan untuk meningkatkan partisipasi pengusaha dan industri di Provinsi Aceh melakukan ekspor. 

Fasilitas kepabeanan yang diberikan tersebut terdiri pembebasan bea masuk maupun penangguhan pembayaran bea masuk serta pajak dalam rangka impor (PDRI).

Selain itu, juga pemberian lima pusat logistik berikat, dua kawasan berikat, tujuh tempat penimbunan sementara, delapan kawasan pabean, dan satu kawasan ekonomi khusus.

“Selain pemberian fasilitas kepabeanan, kami juga berupaya menyukseskan program peningkatan perekonomian Aceh dengan menggali potensi ekspor,” kata Safuadi.

Hasil penggalian potensi tersebut, kata Safuadi, ada beberapa komoditas ekspor, di antaranya pinang, kopi, perikanan, kopi, kelapa serta CPO, minyak nilam, pala, karet, eceng gondok, dan jengkol.

“Kami mengajak kalangan pengusaha untuk mengembangkan komoditas ekspor tersebut guna meningkatkan perekonomian Aceh, sehingga tidak tergantung lagi pada anggaran pemerintah,” kata Safuadi. | antara 

 

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: