Connect with us

KHASANAH RAMADHAN

Ramadhan Momentum Perbaiki Ibadah Shalat Kita

Published

on

Akan sangat rugi jika seseorang melakukan kewajiban puasa, tapi lalai dari kewajiban shalat | foto net

ACEHTIMES.ID –  Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam telah mengabarkan bahwa segala amal di bulan Ramadhan bernilai pahala berlipat ganda. Bila seorang Muslim tak melalaikan shalat maktubah (shalat lima waktu), bahkan berupaya menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhannya dengan mengerjakan berbagai shalat sunah, tentu amaliyah tersebut akan dibalas dengan pahala berlipat ganda. Sebab sejatinya shalat sendiri merupakan ibadah yang derajatnya tinggi.

Pendakwah yang juga Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Masyhuril Khamis menjelaskan, terdapat hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi yang menyebutkan bahwa shalat merupakan tiang agama. Terlepas dari perdebatan ulama mengenai status hadis tersebut, menurutnya, shalat memang merupakan ibadah utama dalam Islam.

“Faktanya memang shalat adalah tiang dari agama. Ibarat agama adalah rumah, shalat adalah penyangganya. Rumah tanpa tiang tentu tidak ada manfaat bagi pemiliknya. Begitu pula agama Islam tanpa shalat, seolah ia tak berarti apa-apa,” ujar Kiai Masyhuril kepada Republika, beberapa hari lalu


Dijelaskan, identitas keislaman seseorang dilihat dari shalatnya. Maka, tidak heran jika sebagian ulama berpendapat, seseorang yang meninggalkan shalat dengan sengaja bisa berujung pada kekafiran.


Shalat sebagai tiang agama, menurut Kiai Masyhuril, juga bisa dipahami bahwa shalat adalah ibadah yang akan menentukan selamat atau tidaknya manusia di akhirat nanti.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Sungguh amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, beruntung dan selamatlah dia. Namun, jika rusak, maka merugi dan celakalah dia (HR Tirmidzi, Nomor 413).

Sementara Ramadhan, dia melanjutkan, adalah momentum perbaikan diri bagi kaum Muslimin. Pada bulan suci Ramadhan, pintu surga dibuka lebar-lebar, sedangkan pintu neraka ditutup dengan rapat serta setan dibelenggu. “Kesempatan ini seharusnya tidak disia-siakan oleh seorang Muslim,” ujar dia.

Saat Ramadhan, seorang hamba akan sangat mudah mendapat ampunan dan diringankan untuk melakukan ibadah. Karena itu, para ulama salaf sudah menunggu dan terus berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan berdoa agar amalannya diterima selama enam bulan setelah Ramadhan.

Kiai Masyhuril menekankan, hal utama yang harus diprioritaskan untuk diperbaiki pada bulan Ramadhan adalah shalat, sebagaimana Allah juga akan menanyakannya pertama kali di akhirat kelak. Karena itu, selain menjalankan kewajiban berpuasa, kita harus lebih dulu memperhatikan kewajiban yang lebih besar, yaitu shalat.

“Akan sangat rugi jika seseorang melakukan kewajiban puasa, tapi lalai dari kewajiban shalat,” katanya.


Menurut Kiai Masyhuril, seseorang yang baik shalatnya sudah pasti baik budinya. Hamba tersebut tidak akan takabur dan berlaku sombong karena ketika bertakbir dirinya tahu bahwa Allahlah yang Mahabesar.

Orang yang mendirikan shalat juga tidak akan rakus dan tamak kepada kehidupan dunia. Ia akan sadar bahwa dunia bukanlah tujuan utama. Orang yang mendirikan shalat juga akan menyayangi dan mengharapkan kebaikan atas sesamanya serta tidak akan menyakiti dan merugikan sesamanya.

Mengenai faedah shalat, pakar tafsir Alquran yang juga pengurus Komisi Dakwah MUI, Ustaz Syahrullah Iskandar, menjelaskan, di antara faedah shalat adalah mengokohkan relasi seorang hamba kepada Allah sebagai pencipta. Shalat merupakan pertanda ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah.

Shalat memiliki relasi yang sangat kuat dengan ibadah lainnya. Bahkan, Ustaz Syahrullah menjelaskan, dalam sejumlah ayat Alquran seruan untuk mengerjakan shalat kerap disandingkan dengan amal ibadah lainnya, seperti berzakat, bersedekah, dan sebagainya. 

Hal itu menunjukkan bahwa tidak berartinya amal ibadah seseorang bila meninggalkan shalat. Begitu pun sebaliknya, tidak sempurna keislaman seseorang yang hanya mengerjakan shalat tapi mengesampingkan ibadah lainnya, terlebih zakat, berpuasa, dan berhaji bagi yang mampu.

Apalagi relasi antara puasa dengan shalat, menurut dia, sangat kuat dalam membuat seorang hamba jadi insan yang bertakwa.  “Dengan berpuasa, seorang hamba juga dapat meningkatkan kualitas shalatnya.” | ROI

KHASANAH RAMADHAN

Doa 10 Hari Terakhir Ramadhan yang Diajarkan Nabi ke Aisyah

Published

on

Ilustrasi | foto net

ACEHTIMES.ID | JAKARTA – Dengan hampir berakhirnya bulan Ramadhan, umumnya umat Islam ingin memfokuskan diri untuk melaksanakan ibadah sebaik mungkin agar meraup banyak pahala. Terutama, di 10 hari terakhir Ramadhan di mana di waktu inilah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam pernah mengajarkan doa kepada Sayyidah Aisyah.

Dilansir di Masrawy, Jumat (7/5), dalam sebuah siaran langsung yang digelar melalui laman resmi Dar Al-Ifta Mesir, terdapat sebuah pertanyaan mengenai doa apa yang terbaik kepada Allah di 10 hari terakhir Ramadhan? Sekretaris Fatwa Dar Al-Ifta Mesir kemudian mengutip sebuah hadits.

Bahwasannya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menganjurkan bagi umatnya untuk berdoa di malam sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan doa. Nabi bersabda: 

اللَّهُمَّإِنَّكَعَفُوٌّكَرِيمٌتُحِبُّالْعَفْوَفَاعْفُعَنا “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul-afwa fa’fu anna.” “Ya Allah ya Tuhan, Engkau Mahapengampun, Engkau menyukai ampunan (kepada setiap makhluk Allah). Karenanya, ampunilah kami.” 

Doa dalam hadits ini diajarkan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam kepada Sayyidah Aisyah tatkala beliau mendatangi Rasulullah dan bertanya langsung tentang doa apa yang dapat ia baca di 10 hari terakhir Ramadhan.

Dijelaskan bahwa, salah satu sifat Allah adalah Yang Mahapengampun. Bahkan kata Al-Afwu (Maha Pengampun) yang disandarkan pada sifat Allah ini disebutkan sebanyak lima kali dalam Alquran. Salah satunya sebagaimana yang termaktub dalam Surat An Nisa 149: 

Lailatul Qadar, Malam Penuh Kemuliaan di Bulan Ramadhan

Sejumlah jamaah membaca Al-Quran saat malam Lailatul Qadar pada bulan suci Ramadhan.

إِنْتُبْدُواخَيْرًاأَوْتُخْفُوهُأَوْتَعْفُواعَنْسُوءٍفَإِنَّاللَّهَكَانَعَفُوًّاقَدِيرًا

In tubdu khairan aw tukhfuhu aw ta’fuw an suu-in fa-innallaha kaana afuwwan qadiran.”

Yang artinya: “Jika kamu melahirkan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahakuasa.”

Continue Reading

KHASANAH RAMADHAN

Lima Amalan Terbaik Saat Itikaf Ramadhan

Published

on

Ilustrasi jamaah iktiqaf | foto net

ACEHTIMES.ID – “Itikaf adalah cara yang paling baik untuk meramaikan masjid, juga sarana menghormati bulan suci Ramadhan secara indah,” kata Chandra Nila Murti Dewojati dalam bukunya “Strategi Jitu Meraih Lailatul Qadar”

Candra mengatakan, sedikitnya ada lima amalan terbaik yang dilakukan oleh orang sedang beritikaf di antaranya adalah:

1. Shalat.

Sholat, ini tentu dalah ibadah pokok yang paling utama dan yang paling besar pahalanya, juga yang dianjurkan untuk diperbanyak dilakukan karena menurut Al-Kubaisi, sholat merupakan hubungan langsung antara dua pihak yakni seorang hamba dengan Khaliqnya. Apa lagi sholat merupakan tiangnya agama.

2.Banyak Membaca Alquran.

Dengan membaca Alquran hati akan menjadi tenang, juga mendapatkan jaminan untuk mendapatkan syafaat dari hari kiamat kelak. Hal ini seperti sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam . “Bacalah oleh kalian Alquran karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian yang di hari kiamat sebagai syafaat. (HR.Muslim).

3. Memperbanyak Zikir, Tasbih, Tahmid, Tahli, Istighfar, dan sebagainya.

Menurut para ulama, dzikir merupakan ibadah khusus untuk bertaqarrub aktivitas mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  Maka dengan menyibukkan diri dengan dzikir saat itikaf tak pelak akan memperoleh pahala yang berlipat lipat.

Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengingat hambanya yang mengingatnya, seperti firman Allah SWT dalam surat Albaqarah ayat 152 yang artinya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

4. Bershalawat atas nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Karena salawat ini merupakan salah satu sebab turunnya rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala bahkan berlipat rahmat-Nya. Seperti wabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

“Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan memberinya Rahmat 10 kali.” (HR.Muslim)

5. Upayakan mengurangi bersosialisasi saat beritikaf di Bulan Ramadhan.

Menurut beberapa ulama bila bisa sampai itikaf sampai menjelang Idul Fitri dan keesokan harinya keluar dari Masjid langsung menuju tempat tidur Idul Fitri, akan lebih baik karena menyambung satu ibadah dengan ibadah lainnya. Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

“Barangsiapa bangun untuk beribadah pada dua malam dengan mengharapkan pahala dari Allah maka Allah tidak akan mematikan batinnya pada saat dimatikan semua hati.” |ROI

Lima Amalan Terbaik Saat Itikaf Ramadhan

ACEHTIMES.ID – “Itikaf adalah cara yang paling baik untuk meramaikan masjid, juga sarana menghormati bulan suci Ramadhan secara indah,” kata Chandra Nila Murti Dewojati dalam bukunya “Strategi Jitu Meraih Lailatul Qadar”

Candra mengatakan, sedikitnya ada lima amalan terbaik yang dilakukan oleh orang sedang beritikaf di antaranya adalah:

1. Shalat.

Shalat, ini tentu dalah ibadah pokok yang paling utama dan yang paling besar pahalanya, juga yang dianjurkan untuk diperbanyak dilakukan karena menurut Al-Kubaisi, shalat merupakan hubungan langsung antara dua pihak yakni seorang hamba dengan Khaliqnya. Apa lagi shalat merupakan tiangnya agama.

2.Banyak Membaca Alquran.

Dengan membaca Alquran hati akan menjadi tenang, juga mendapatkan jaminan untuk mendapatkan syafaat dari hari kiamat kelak. Hal ini seperti sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam . “Bacalah oleh kalian Alquran karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian yang di hari kiamat sebagai syafaat. (HR.Muslim).

3. Memperbanyak Zikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, Istighfar, dan sebagainya.

Menurut para ulama, dzikir merupakan ibadah khusus untuk bertaqarrub aktivitas mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  Maka dengan menyibukkan diri dengan dzikir saat itikaf tak pelak akan memperoleh pahala yang berlipat lipat.

Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengingat hambanya yang mengingatnya, seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Albaqarah ayat 152 yang artinya.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

4. Bershalawat atas nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Karena salawat ini merupakan salah satu sebab turunnya rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala bahkan berlipat rahmat-Nya. Seperti sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

“Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan memberinya Rahmat 10 kali.” (HR.Muslim)

5. Upayakan mengurangi bersosialisasi saat beritikaf di Bulan Ramadhan.

Menurut beberapa ulama bila bisa sampai itikaf sampai menjelang Idul Fitri dan keesokan harinya keluar dari Masjid langsung menuju tempat tidur Idul Fitri, akan lebih baik karena menyambung satu ibadah dengan ibadah lainnya. Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

“Barangsiapa bangun untuk beribadah pada dua malam dengan mengharapkan pahala dari Allah maka Allah tidak akan mematikan batinnya pada saat dimatikan semua hati.” |ROI

Continue Reading

KHASANAH RAMADHAN

Lailatul Qadar Malam Spesial untuk Umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Published

on

Ilustrasi | foto net

ACEHTIMES.ID – Malam lailatul qadar menjadi malam yang mendapat tempat spesial di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala Sehingga Allah menyiapkan pada malam tersebut ampunan-Nya yang sangat besar juga ganjaran pahala lainnya.

Sangat disayangkan jika seorang Muslim melewatkan kesempatan yang spesial ini,” kata Ustadz Ahmad Zarkasih dalam bukunya Meraih Lailatul Qadr Haruskah Itikaf.

Ustadz Ahmad mengatakan, salah satu pendapat yang masyhur, bahwa malam tersebut ialah malam yang sangat mulia, kemualiannya lebih baik dari malam 1.000 bulan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qadr ayat 3.

“Artinya jika seorang Muslim beribadah pada malam tersebut, berarti ia mendapat fadhilah ibadah selama 83 tahun lebih, sedangkan belum tentu seorang Muslim bisa hidup selama itu,” katanya.

Ustdaz Ahmad Zarkasih mengatakan, Allah telah menyiapkan pahala itu untuk umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam  di malam terakhir Ramadhan. Dan tentu saja kemualiaan yang besar tidak begitu saja mudah didapatkan.

“Perlu usaha dan upaya yang maksimal guna mendapatkannya,” katanya. | ROI

 

 

Continue Reading

Trending

%d blogger menyukai ini: